NASA Rilis Foto Empat Badai dan Asap Kebakaran yang Mengancam AS.

Satelit NASA merilis gambar AS yang diselimuti asap akibat kebakaran di wilayah Barat negara dan badai di beberapa wilayah. Gambar NASA itu diambil pada 15 September 2020. Dikutip dari rilis NASA, Rabu waktu AS atau Kamis (17/9/2020) waktu Indonesia, foto NASA tersebut menunjukkan titik-titik merah yang berada di seluruh wilayah AS.

Namun NASA mengatakan bahwa titik merah yang berada di wilayah Barat AS menunjukkan area yang suhunya jauh lebih tinggi daripada area di sekitarnya dan menunjukkan adanya kebakaran. Selain itu, gambar NASA juga menangkap empat badai yang mengintai AS. Badai itu tampak di wilayah Timur dan Barat AS. Ada Badai Karina yang menjauh dari daerah Baja California. Ada juga Badai Sally, yang terlihat di tengah-tengah gambar, menghantam Gulf Coast hingga menyebabkan bencana banjir. Dikutip dari Aljazeera, Badai Sally menumbangkan pepohonan, membanjiri kota, dan memutus aliran listrik ke ratusan ribu rumah dan area bisnis di Alabama-Florida pada hari Rabu waktu setempat.

Komunitas pesisir Pensacola, Florida, mengatakan banjir mencapai 1,5 meter (lima kaki), dan jembatan yang rusak akibat Badai Sally. NASA juga mencatat Badai Paulette di lepas Pantai Timur dekat Bermuda dengan kecepatan angin 74 mph, meski demikian tidak ada daratan yang terancam dihantam badai ini. Badai Teddy di sebelah timur Kepulauan Leeward, juga memiliki kecepatan angin 74 mph, dan bergerak ke barat laut. NASA mengatakan pihaknya kerap mengambil gambar AS setiap hari, bahkan dari beberapa satelit. Namun kali ini cukup tak biasa karena mendapatkan gambar dengan deretan bahaya yang mengancam Paman Sam. Sebelumnya pada 14 September, NASA juga merilis gambar AS yang diselimuti asap akibat kebakaran.

Asap dikutip dari website EPA mengancam kesehatan warga setempat. Ancaman kesehatan terbesar dari asap berasal dari partikel halus. Partikel mikroskopis ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru Anda. Partikel ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari membuat mata perih dan pilek hingga penyakit jantung dan paru-paru kronis yang parah. Paparan polusi partikel bahkan dikaitkan dengan kematian dini. Kebakaran di Oregon dan California, AS Wilayah West Coast AS diselimuti asap tebal akibat kebakaran di Oregon yang menewaskan 30 orang dan menghancurkan ratusan rumah di wilayah itu. Asap kebakaran ini bahkan memengaruhi sebagian besar negara AS.

Dikutip dari Guardian, ribuan penduduk tetap dievakuasi di tempat penampungan dan kamar hotel, dan 22 orang masih dipastikan hilang, menurut Kantor Manajemen Darurat Oregon. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyetujui deklarasi bencana untuk Oregon. Otoritas AS juga mengalokasikan dana untuk warga yang terdampak kebakaran. Dana tersebut untuk perbaikan sementara tempat tinggal warga dan menghadirkan pinjaman berbiaya rendah untuk menutupi kerugian terkait properti yang tidak diasuransikan.

Di California, 16.600 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan 25 titik kebakaran pada hari Selasa setelah mampu memadamkan sebagian besar dua titik api pada hari Senin. Lebih dari 20 orang tewas dalam kebakaran hutan di negara bagian itu sejak pertengahan Agustus 2020. Meskipun pengelolaan hutan dan pemadaman kebakaran merupakan bagian dari masalah, para ilmuwan mengatakan bahwa pemanasan global berperan dalam bencana kebakaran di AS.

Badai Sally Terjang AS, Kawasan Pantai Teluk Terendam Banjir.

Badai Sally menghantam pantai dekat garis Florida-Alabama, Amerika Serikat, pada Rabu (16/9) pagi waktu setempat.Badai yang menghantam pada pagi hari di dekat Gulf Shores, Alabama, itu masuk dalam badai Kategori 2, dengan kecepatan angin mencapai 105 mph. Sore hari, badai berubah menjadi badai tropis karena kecepatan angin melambat menjadi 113 km per jam, sedikit di bawah ambang batas untuk kategori badai.Beberapa bagian dari Pantai Teluk telah tergenang banjir sekitar 46 cm akibat hujan dalam 24 jam terakhir. Selain itu, pepohonan dan tiang listrik tumbang, lebih dari 500.000 rumah dan bisnis di wilayah itu mati listrik.

Sally adalah nama badai ke-18 di Atlantik tahun ini dan akan menjadi badai kedelapan terkuat yang melanda Amerika Serikat. Chuck Watson dari Enki Research memperkirakan kerusakan dari badai Sally mencapai USD 2 miliar (Rp 29,6 triliun) hingga USD 3 miliar (Rp 44,4 triliun). Perkiraan itu bisa naik jika curah hujan terberat terjadi di daratan.

Badai Sally Menguat dan Semakin Dekati Pesisir AS.

Louisiana – Badai Sally menguat menjadi badai Kategori 2 pada Senin malam dan terus bergerak ke arah garis pantai Louisiana, Alabama, dan Mississippi, Amerika Serikat. Sally diperkirakan dapat memicu hujan deras dan juga gelombang “membahayakan jiwa” setinggi 3,3 meter.

Dikutip dari laman Washington Post, Selasa 15 September 2020, Sally perlahan bergerak menuju Pesisir Teluk AS, dan dampak buruknya di wilayah pesisir diperkirakan akan berlangsung lama.

Sebelum tiba di pesisir AS antara hari Selasa dan Rabu, Sally mungkin akan lebih menguat lagi saat berada di perairan hangat Teluk Meksiko.

Meski Sally membawa angin kencang dengan kecepatan hingga 112-160 kilometer per jam, ancaman terbesar dari badai ini adalah air. Selama ini, area pesisir Louisiana dan Alabama dikenal sangat rentan terhadap gelombang tinggi.
 
Karena pergerakannya yang lamban, hujan deras akan melanda sejumlah wilayah mulai dari tenggara Louisiana hingga ke Florida Panhandle. Kondisi ini berpotensi memicu banjir besar di New Orleans jika hujan mengguyur selama berjam-jam.
 
Pusat Badai Nasional (NHC) memproyeksikan Sally akan tiba di Louisiana pada Selasa pagi waktu setempat, dan bergerak ke arah Mississippi dan Alabama menuju Florida Panhandle.
 
Sally diperkirakan juga akan berdampak pada beberapa kota, mulai dari Morgan City, Louisiana, hingga ke Ocean Springs, Mississippi.
 
Gubernur Louisiana John Bel Edwards mendeklarasikan status darurat badai pada Sabtu kemarin. Sementara otoritas New Orleans telah mengeluarkan perintah evakuasi wajib untuk beberapa wilayah rentan.

Lebih Seram dari Bumi, Ini 4 Badai Paling Mengerikan di Tata Surya.

Lebih Seram dari Bumi, Ini 5 Badai Paling Mengerikan di Tata Surya

Badai besar selalu jadi bencana yang ditakuti semua orang. Bagaimana kita tidak takut, jika satu sapuan badai saja sudah bisa meluluhlantakkan rumah beserta penghuninya? Bagi kita, badai di Bumi sudah menakutkan.

Tapi menurut astronomy.com, badai Bumi ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan badai dari planet lain yang ada di Tata Surya. Jadi seseram apa sih badai di sana?

1. The Great Red Spot di Jupiter.

Kalau kamu pernah memperhatikan gambar planet Jupiter, kamu akan menemukan bintik merah raksasa yang dikenal dengan nama The Great Red Spot. Meski dari gambar, bintik merah ini tampak sepele tapi siapa sangka jika bintik merah ini adalah badai raksasa yang terjadi di Jupiter.

Tidak tanggung-tanggung, badai raksasa ini memiliki ukuran tiga kali lipat ukuran Bumi dan sudah berlangsung selama tiga ratus tahun. Tidak ada yang tahu pasti kenapa badai bisa muncul di Jupiter, tapi dugaan paling kuat adalah karena sinar kosmik yang memicu reaksi dan mengubah amonium hidrosulfida di lapisan awan atas menjadi senyawa baru dengan rona berdarah.

2. Badai debu di Mars.

Meski dalam banyak hal, Mars mirip dengan Bumi, tapi badai di Mars tidak ada mirip-miripnya dengan badai yang ada di planet kita, jauh lebih seram malah! Badai di Mars adalah badai debu yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Badai ini terjadi karena partikel debu yang ada di Mars menyerap sinar matahari dan membuat atmosfer lebih hangat. Ketika udara hangat ini datang ke tempat yang lebih dingin, udara yang sudah bercampur debu kemudian berubah jadi badai kencang yang dapat menyelimuti seluruh permukaan planet.

Tidak berhenti di situ, badai di Mars juga sanggup mengubah suhu planet yang minus menjadi lebih hangat yakni sekitar 30 derajat celcius.


3. Badai misterius di Saturnus.

Sama seperti tetangganya, Saturnus juga bisa mengalami badai yang mengerikan. Badai di Saturnus memang jarang terjadi, hanya beberapa dekade sekali di bagian kutubnya. Meski begitu, badai Saturnus membentuk segi enam yang dikenal dengan Hexagon.

Setiap sisi memiliki ukuran lebih besar dari planet kita. Di bagian pusatnya, badai berputar membentuk badai gas yang berukuran 50 kali lebih besar dari badai di Bumi. Saking besarnya, penampakan badai ini terlihat hingga luar angkasa.

4. Angin topan mengerikan di Neptunus.

Neptunus memang tidak punya badai debu atau badai raksasa yang berlangsung selama ratusan tahun. Tapi Neptunus memiliki angin topan yang mengerikan di planetnya. Angin di Neptunus bisa bergerak dengan kecepatan 1.500 mph bahkan melebihi 1.930 km per jam atau setengah dari kecepatan suara di Bumi.

Badai di Bumi memang menakutkan, tapi ternyata planet lain jauh lebih mengerikan. Untungnya, tidak ada satu pun makhluk hidup yang tinggal di planet-planet tersebut. Coba bayangkan, betapa mengerikannya jika manusia tinggal di salah satu planet ini!

Badai Tropis Teddy Terbentuk di Atlantik.

Badai tropis Teddy terbentuk di Atlantik pada Senin pagi (14/9) dan menjadi badai aktif keempat di cekungan Atlantik, menurut Pusat Badai Nasional Amerika.

Para peramal cuaca mengatakan badai Teddy terletak lebih dari 2.260 kilometer sebelah timur kepulauan Antilles Kecil. Badai itu memiliki kecepatan angin maksimum 65 km per jam. Badai Teddy diperkirakan akan menguat dalam beberapa hari mendatang.

Gelombang besar yang ditimbulkan badai Teddy diperkirakan akan mencapai pesisir timur laut Amerika Selatan dan kepulauan Antilles Kecil pada hari Rabu (16/9) yang dapat mengancam jiwa dan menyebabkan arus balik.

Tiga badai aktif lainnya adalah Badai Paulette, Depresi Tropis Rene dan Badai Tropis Sally. Paulette melanda Bermuda sedangkan Sally sedang mengarah ke kawasan AS di pesisir Teluk Meksiko. Rene diperkirakan tidak akan menimbulkan ancaman saat mencapai daratan.

Ini Foto Badai Raksasa Selimuti Bumi Tampak dari Antariksa.

California – Pemandangan Bumi dari antariksa menyajikan perspektif yang berbeda jika dibandingkan apa yang disaksikan orang di sini. Termasuk pula pemandangan badai topan berukuran besar yang menyelimuti salah satu bagian planet ini.

Dari posisi mereka di atas sana, di International Space Station (ISS) pada ketinggian sekitar 400 kilometer, astronaut memang dapat melihat Bumi secara unik. Mereka kadang membagikan foto dari sudut pandang yang tidak akan pernah disaksikan langsung oleh kebanyakan orang.

Nah, astronaut NASA yang saat ini sedang berada di ISS, membagikan foto badai Genevieve. Sang astronaut, Chris Cassidy, menyajikan foto jepretannya itu di Twitter dan langsung menuai perhatian dari banyak netizen.

Terlihat dengan jelas bagaimana pusaran badai menyelimuti planet ini, tampak indah tapi sekaligus agak menyeramkan. Angin topan Genevieve ini melanda semenanjung California dan mungkin saja nanti menyapu daratan sehingga patut diwaspadai.

“Jika berbelok sedikit saja akan membuat badai topan melanda daratan dan pemerintah Meksiko sudah mengeluarkan peringatan akan kemungkinan datangnya badai ini,” cetus US National Hurricane Centre.

Cassidy sendiri rutin memposting hasil foto dari lokasinya berada. Para fans pun senang dan mereka tak ketinggalan mengomentari foto badai tersebut.

“Bagi orang di daratan, badai ini bisa saja mengancam nyawa, tapi terlihat menakjubkan dari sudut pandang Anda,” tulis seorang netizen yang tak dapat meyembunyikan kekagumannya.

“Selalu senang karena Anda senantiasa memajang foto badai semacam itu. Terima kasih sudah mau membagikannya dan membuat kami bisa melihat peristiwa alam ini dari perspektif yang benar-benar berbeda,” tulis komentar yang lainnya.

Korut Mengantisipasi Bencana Alam Badai Topan Haishen.

 Media lokal setempat memberitakan saat ini kawasan semenanjung Korea, dan wilayah Kepulauan Jepang lagi dihantam bencana alam badai Topan Haishen. Pihak Pemerintah Korea Utara (Korut) saat ini lagi mempersiapkan diri dalam mengantisipasi terjangan badai Topan Haishen yang kemungkinan berdampak pada wilayahnya.

Saat ini Korea Utara (Korut) sedang bersiaga satu. Mengigat sebelumya Korut pada beberapa dekede lalu baru dihantam Topan Maysak dan Bavi.

Dikutip dari media AFF, pada hari Rabu (09/09/2020) Laporan televisi milik Pemerintah Korut menunjukkan situasi kawasan Tongchon di Provinsi Gangwon dekat perbatasan Korsel banyak pohon bertumbangan dan gelombang laut yang tinggi. Para penduduk di kawasan itu juga dievakuasi ke tempat lebih aman.

Saat ini, sektor pertanian Korut memang menghadapi kondisi buruk karena cuaca yang tidak bersahabat. Bencana badai dan banjir kerap melanda kawasan Korut sehingga mereka terancam kelaparan. Pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, telah mengunjungi kawasan pantai yang dilanda Topan Maysak dan memerintahkan pejabat partai melakukan upaya pemulihan secepatnya.

Sebagai informasi umum, badai ini sebelumya menerjang wilayah kepulauan Jepang. Berdasarkan informasi dari kantor berita Kyodo melaporkan empat orang hilang dan lebih dari 50 orang terluka akibat topan. Empat orang yang hilang berlokasi di Desa Shiiba, Prefektur Miyazaki, setelah tanah longsor menghantam kantor perusahaan konstruksi. Korban terluka di antaranya seorang perempuan yang jatuh karena naik tangga saat pemadaman listrik.

Topan tersebut juga memutus aliran listrik ratusan ribu rumah di Jepang, meskipun awalnya diperkirakan kerusakan tidak separah yang dikhawatirkan. NHK melaporkan, 32 orang terluka, di antaranya empat orang yang berada di gedung pusat evakuasi terkena pecahan kaca.

Sekitar delapan juta orang yang berada di wilayah perlintasan badai di Jepang telah diminta untuk mengungsi. Badai itu terjadi beberapa hari setelah Topan Maysak, salah satu topan terkuat di kawasan itu dalam beberapa tahun, menghantam Semenanjung Korea dan Jepang  dalam pekan ini.

Badai menyerang Korut, ini Perintah dari Kim Jong Un.

Media pemerintah KCNA melaporkan, pada hari Rabu (9/9/2020), Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan dia akan mempertimbangkan kembali proyek akhir tahun setelah badai topan menghantam beberapa daerah di negara itu.

Melansir Reuters yang mengutip KCNA, Kim membuat pengumuman dalam pertemuan Partai Buruh yang berkuasa pada hari Selasa mengenai upaya pemulihan di daerah yang dilanda topan, termasuk daerah Komdok di Provinsi Hamgyong Selatan.

“Badai topan menyebabkan kerusakan di Korea Utara dengan situasi di mana kami tidak bisa tidak mengubah arah perjuangan kami setelah secara komprehensif mempertimbangkan tugas akhir tahun yang sedang berlangsung,” kata Kim dalam sebuah pernyataan yang dibawa oleh KCNA.

KCNA melaporkan, topan Maysak, topan kesembilan musim ini, menyebabkan kondisi darurat, melumpuhkan sistem transportasi dan menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, membuat banjir gedung-gedung dan jalan-jalan umum dan menyebabkan runtuhnya 59 jembatan.

Negara yang terisolasi itu telah menanggung beban terparah dari Maysak dan Topan Bavi, diikuti oleh Topan Haishen, karena telah bergulat dengan hujan lebat dan banjir di salah satu musim hujan terbasah yang pernah tercatat.

KCNA melaporkan, Kim menekankan perlunya membangun kembali rumah dan memulihkan jalan serta rel kereta sebelum 10 Oktober dan dia menargetkan akhir tahun untuk menyelesaikan semua perbaikan.

Tanggal 10 Oktober penting di Korea Utara, seiring perayaan berdirinya Partai Buruh.