Badai Marie Semakin Kuat Perlahan lahan.

Badai Marie terus menguat di bagian timur Samudra Pasifik dan diperkirakan akan menjadi Badai Besar dengan kecepatan angin lebih dari 110 mph dalam waktu dekat. Badai, yang sekarang terletak sekitar 895 mil barat daya ujung selatan Baja California, diperkirakan akan melewati perairan terbuka antara Hawaii dan Pantai Barat AS dalam beberapa hari mendatang.

Menurut National Hurricane Center di Miami, Florida, angin maksimum yang berkelanjutan telah meningkat mendekati 110 mph dengan hembusan yang lebih tinggi. Penguatan tambahan diharapkan selama satu atau dua hari berikutnya. Namun, pelemahan diperkirakan akan dimulai pada Jumat malam atau
Sabtu.

Untuk saat ini, Marie bergerak ke arah barat mendekati 16 mph. Selama beberapa hari berikutnya, Maria harus mulai berbelok ke barat-barat laut dan kemudian ke barat laut, melambat saat bergerak melintasi Pasifik. Panduan prakiraan saat ini menunjukkan bahwa Marie akan tersapu jauh ke utara rantai Pulau Hawaii, menjaga kelembapan dan ladang angin jauh dari Negara Bagian Aloha seiring waktu. Namun, beberapa hari perlu berlalu untuk mengonfirmasi apakah panduan tersebut akurat.

Seperti yang terjadi di sepanjang Teluk AS dan pantai Timur, penduduk Hawaii harus waspada terhadap ini dan kemungkinan ancaman topan tropis lainnya dalam beberapa minggu mendatang. Musim badai 2020 berakhir di cekungan badai Pasifik Tengah dan Atlantik pada 30 November.

Waspada Kehadiran Badai Zombie.

Tahun 2020 nampaknya bukan masa yang baik untuk manusia. Selain pandemi COVID-19, beberapa wilayah di dunia juga dihantam cuaca ekstrem bernama Badai Zombie.

“Tahun 2020, kita menghadapi Badai Tropis Zombie. Selamat datang di tanah kehidupan, Badai Tropis #Paulette,” tulis akun Twitter National Weather Service, dikutip dari laman Live Science, Minggu 27 September 2020.

Awal bulan ini, badai tersebut terbentuk di Samudera Atlantik lalu mendarat di wilayah Bermuda. Menurut laporan CNN, aktivitas itu tergolong Kategori 1 lalu menguat ke Kategori 2, yang akhirnya melemah lalu berakhir lima setengah hari kemudian.

Namun kemudian, Badai Paulette kembali menguat di wilayah lain dan tidak melemah. Badai Zombie menguat sekitar 480 kilometer dari Kepulauan Azores, pada 21 September 2020 lalu. Wilayah tersebut berada di tengah Samudera Atlantik.

Menurut Profesor Ilmu Atmosfer University of Illinois, Donald Wuebbles, badai ini akan lebih sering terjadi. Penyebabnya adalah adanya perubahan iklim dan pemanasan global.

“(Telah terjadi) pemanasan yang ekstrem di Teluk  (Meksiko) khususnya di beberapa area laut lepas pantai Karibia,” ungkapnya.

Teluk Meksiko memang terkenal memiliki banyak badai, sebelum akhirnya menghantam Amerika Serikat. Wilayah itu juga rentan dengan aktivitas pemanasan global, karena perairannya sangat dangkal dan mudah memanas.

Biasanya, Badai Samudera Atlantik akan terbentuk di laut dengan temperatur hangat, yang berada di dekat Afrika. Lalu, Wuebbles menyatakan badai akan melintasi lautan menuju Amerika.

Sekarang energi badai juga diambil di perairan hangat Karibia. Menurut Wuebbles, ini berlaku bagi badai yang belum padam seperti Badai Laura yang terjadi bulan lalu.

Wuebbles mengungkapkan, Badai Laura meningkat drastis dari Kategori 1 ke Kategori 4 akibat mengambil energi dari laut hangat itu.

6 Badai Bergerak Bersamaan di Bumi, Ini Faktanya.

Untuk kali pertama sejak 1971 ada 6 badai bergerak sekaligus di bumi yakni badai Sally, Paulette, Rene, Teddy, Vicky di Samudra Atlantik serta badai Karina di Samudra Pasifik.

6 badai itu terlihat  berputar-putar dari luar angkasa sejak Selasa (15/9/2020).  Saat ini badai Sally sedang meluncur menuju daratan ketika 5 badai lainnya berputar di permukaan bumi.

Data dari satelit Aqua NASA menyebutkan sejak Senin (14/9/2020), satelit Aqua NASA,telah mereklasifikasi Tropical Storm Sally sebagai badai.

Badai tersebut bergerak di atas Teluk Meksiko tengah-utara pada Selasa (15/9/2020) dan diperkirakan akan terus bergerak menuju Louisiana, Amerika Serikat dan membuat pendaratan sekitar Rabu (16/9/2020) hari ini entah siang atau malam hari.

Menurut NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), aeperti dilansir Space.com, pada pukul 8 malam EDT (2400 GMT) Senin, Sally adalah badai Kategori 2, memiliki kecepatan angin 100 mph (161 kph) dan bergerak dengan kecepatan 5 mph (8 kph).

Badai ini terus dipantau oleh instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) di satelit Aqua NASA, yang diluncurkan sejak 4 Mei 2002 untuk mengamati Bumi sebagai bagian dari Earth Observing System (EOS). 

Satelit geostasioner GOES-East NOAA (sebelumnya dikenal sebagai GOES-16) juga melacak badai, memantau bagaimana mereka tumbuh dan bergerak dan ke mana tujuan mereka selanjutnya.

GOES-East mengorbit lebih dari 22.000 mil (35.405 kilometer) di atas Bumi, mengawasi Amerika Utara, Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Samudra Atlantik yang membentang ke Afrika. 

Dalam tweet yang diposting NOAA, Senin (14/9/2020) telah membagikan video yang diambil oleh GOES-16 dari Hurricane Sally. “Dalam video tersebut, Anda dapat melihat badai “awan menggelegak dan #lightning,” tweet NOAA .

Satelit lain juga terus memantau berbagai badai, termasuk satelit PLTN Suomi NASA-NOAA, yang memantau cuaca menggunakan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS).

Pada hari Senin, VIIRS juga melihat badai Paulette di malam hari (01:30 EDT; 0530 GMT), menunjukkan gambar yang jelas dari mata badai. Saat itu, mata besar Paulette sedang mendekati pulau Bermuda, yang menurut NASA sedang diberlakukan peringatan badai.

Ini adalah kali pertama sejak 1971, 6 badai bergerak dalam waktu yang bersamaan di muka bumi yakni badai Sally, Paulette, Rene, Teddy, Vicky di Samudra Atlantik serta badai Karina di Samudra Pasifik.

Musim Atlantik Tahun Ini Diterpa Banyak Badai, Pakar NHC Sampai Bingung Kehabisan Stok Nama.

Tak bisa dipungkiri, saat ini ada begitu banyak badai yang muncul di musim badai Atlantik. saking banyaknya, para peramal cuaca kebingungan memberi nama. 

Dilaporkan News Sky, ahli cuaca mengaku kehabisan stok nama tradisional untuk menandai badai yang terjadi sepanjang musim ini.Maka sebagai solusi, pihaknya terpaksa menandai jenis badai dengan nama Yunani.

Diakui mereka, kondisi kehabisan stok nama tradisional ini terjadi setelah badai tropis di Atlantik timur dinamai Wilfred Jumat 18 September 2020. Itu adalah nama terakhir badai dengan istilah tradisional di tahun 2020.

Ketika badai lain menyusul tak lama kemudian, yang terbentuk secara tidak biasa di lepas pantai Portugal di mana badai Atlantik tidak umum terjadi, pakar menamainya sebagai Alpha.

Badai selanjutnya bernama Beta telah terbentuk di Teluk Meksiko, diperkirakan akan mencapai kekuatan badai pada hari Minggu 20 September 2020, dengan kecepatan angin yang berkelanjutan sekitar 40mph (65kph).

Penamaan badai yang dilakuakn oleh National Hurricane Center (NHC) mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia.

Ada daftar nama pria dan wanita yang digunakan pada badai Atlantik dalam rotasi enam tahun, dimana hanya berubah jika ada badai yang sangat merugikan atau mematikan, yang berarti penggunaan namanya tidak lagi tepat. 

Nama-nama dari musim 2005, termasuk Katrina, Rita, dan Wilma semuanya sudah tidak digunakan lagi di masa depan.

Ini adalah kedua kalinya nama Yunani digunakan sejak NHC mulai menamai badai pada tahun 2005.

Terakhir kali daftar nama habis adalah 15 tahun yang lalu, ketika 6 huruf dari alfabet Yunani harus digunakan.

Sejauh ini telah terdapat campuran nama yang tidak biasa, seperti Cristobal dan Rene, serta nama yang lebih umum seperti Laura dan Omar. Para ahli mengatakan bahwa musim ini sebagian besar badai telah lemah, meskipun jumlahnya banyak.

Baru-baru ini, pemerintahan Trump mengumumkan akan memberikan hampir 13 miliar USD atau setara Rp192 triliun bantuan untuk membantu Puerto Rico membangun kembali dan memperbaiki jaringan listrik dan sekolahnya setelah kehancuran yang disebabkan oleh Badai Maria pada tahun 2017.

Badai tersebut menewaskan sekitar 3.000 orang, namun beberapa data menunjukkan bahwa angka ini bisa jadi lebih tinggi.

Badai Tropis Teddy Terbentuk di Atlantik.

Badai tropis Teddy terbentuk di Atlantik pada Senin pagi (14/9) dan menjadi badai aktif keempat di cekungan Atlantik, menurut Pusat Badai Nasional Amerika.

Para peramal cuaca mengatakan badai Teddy terletak lebih dari 2.260 kilometer sebelah timur kepulauan Antilles Kecil. Badai itu memiliki kecepatan angin maksimum 65 km per jam. Badai Teddy diperkirakan akan menguat dalam beberapa hari mendatang.

Gelombang besar yang ditimbulkan badai Teddy diperkirakan akan mencapai pesisir timur laut Amerika Selatan dan kepulauan Antilles Kecil pada hari Rabu (16/9) yang dapat mengancam jiwa dan menyebabkan arus balik.

Tiga badai aktif lainnya adalah Badai Paulette, Depresi Tropis Rene dan Badai Tropis Sally. Paulette melanda Bermuda sedangkan Sally sedang mengarah ke kawasan AS di pesisir Teluk Meksiko. Rene diperkirakan tidak akan menimbulkan ancaman saat mencapai daratan.