Waspada Kehadiran Badai Zombie.

Tahun 2020 nampaknya bukan masa yang baik untuk manusia. Selain pandemi COVID-19, beberapa wilayah di dunia juga dihantam cuaca ekstrem bernama Badai Zombie.

“Tahun 2020, kita menghadapi Badai Tropis Zombie. Selamat datang di tanah kehidupan, Badai Tropis #Paulette,” tulis akun Twitter National Weather Service, dikutip dari laman Live Science, Minggu 27 September 2020.

Awal bulan ini, badai tersebut terbentuk di Samudera Atlantik lalu mendarat di wilayah Bermuda. Menurut laporan CNN, aktivitas itu tergolong Kategori 1 lalu menguat ke Kategori 2, yang akhirnya melemah lalu berakhir lima setengah hari kemudian.

Namun kemudian, Badai Paulette kembali menguat di wilayah lain dan tidak melemah. Badai Zombie menguat sekitar 480 kilometer dari Kepulauan Azores, pada 21 September 2020 lalu. Wilayah tersebut berada di tengah Samudera Atlantik.

Menurut Profesor Ilmu Atmosfer University of Illinois, Donald Wuebbles, badai ini akan lebih sering terjadi. Penyebabnya adalah adanya perubahan iklim dan pemanasan global.

“(Telah terjadi) pemanasan yang ekstrem di Teluk  (Meksiko) khususnya di beberapa area laut lepas pantai Karibia,” ungkapnya.

Teluk Meksiko memang terkenal memiliki banyak badai, sebelum akhirnya menghantam Amerika Serikat. Wilayah itu juga rentan dengan aktivitas pemanasan global, karena perairannya sangat dangkal dan mudah memanas.

Biasanya, Badai Samudera Atlantik akan terbentuk di laut dengan temperatur hangat, yang berada di dekat Afrika. Lalu, Wuebbles menyatakan badai akan melintasi lautan menuju Amerika.

Sekarang energi badai juga diambil di perairan hangat Karibia. Menurut Wuebbles, ini berlaku bagi badai yang belum padam seperti Badai Laura yang terjadi bulan lalu.

Wuebbles mengungkapkan, Badai Laura meningkat drastis dari Kategori 1 ke Kategori 4 akibat mengambil energi dari laut hangat itu.

Badai Beta picu hujan deras dan banjir di Texas, AS

Gelombang besar akibat badai dan hujan lebat pada hari menyebabkan lagi banjir di pesisir Texas, setelah Badai Tropis Beta mencapai daratan, mengancam daerah-daerah yang terdampak oleh cuaca buruk pada musim badai ini.

Badai Beta menghantam daratan pada di sebelah utara Port O’Connor, Texas.Beta berada dalam jarak 56 kilometer di sebelah utara kota itu dengan angin berkecepatan maksimum 64 km/jam, sebut Pusat Badai Nasional AS (NHC). Badai itu bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan mendekati 5 km/jam dan diperkirakan masih akan bertahan di Texas.

Pakar cuaca dari Dinas Cuaca Nasional Amaryllis Cotto di Galveston, Texas, mengatakan gelombang pasang dan hujan masih berlangsung bersamaan di sana.

Cotto mengatakan hujan dengan curah 15-30 centimeter turun di daerah itu, dengan beberapa tempat mengalami curah hujan hingga 45 centimeter. Banjir bandang yang berbahaya diperkirakan terjadi sampai Rabu, ujar Cotto.

Beta adalah badai bernama kesembilan yang tiba di daratan di benua Amerika tahun ini. Ini menyamai rekor tahun 1916, sebut peneliti badai dari Colorado State University, Phil Klotzbach. Ini juga merupakan pertama kalinya sebuah huruf Yunani digunakan untuk menamai badai yang mendarat di benua Amerika. Para pakar cuaca telah kehabisan nama tradisional pada hari Jumat, memaksa digunakannya abjad Yunani untuk kedua kalinya sejak tahun 1950-an.

Beta akan bergerak di bagian tenggara Texas hingga Rabu dan kemudian Louisiana dan Mississippi pada hari Rabu hingga Jumat. Pertanyaan terbesar mengenai Beta adalah seberapa banyak curah hujan yang ditimbulkannya. Beta kemudian diperkirakan melemah, tetapi banjir bandang masih mungkin terjadi di Arkansas dan Mississippi sementara sistem cuaca ini bergerak lebih jauh ke pedalaman.

Prediksi sebelumnya, hingga 51 sentimeter, di beberapa daerah telah diturunkan pada hari Senin menjadi sekitar 38 centimeter.

Badai Dolphin Mendekat, Warga Tokyo Diminta untuk Waspada.

Warga Tokyo pada Rabu (23/9/2020) diminta untuk waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghadapi sebuah badai tropis di Samudera Pasifik yang bergerak mendekati kawasan Ibu Kota Jepang itu. Pihak berwenang mengantisipasi hujan lebat dan angin kencang yang kemungkinan akan dibawa badai tersebut.

Badai yang dinamakan Dolphin saat ini bergerak ke arah utara, melewati perairan di sebelah selatan pulau Hachijo, dengan membawa angin berkecepatan maksimum 108 kilometer per jam, kata Badan Meteorologi Jepang sebagaimana dilansir VOA.

Berdasarkan prediksi terbaru badan itu, badai tersebut tidak akan mendarat di Jepang, namun diperkirakan akan membawa hujan lebat di Tokyo dan beberapa kawasan lain di wilayah timur Jepang pada Kamis (24/9/2020) dan Jumat (25/9/2020).

Gubernur Tokyo Yuriko Koike mendesak warga, terutama yang tinggal di pulau-pulau di sebelah selatan Tokyo, untuk bersiap menghadapi evakuasi dini. Ia mengatakan, Tokyo mengambil langkah-langkah keamanan yang memadai untuk mencegah penyebaran virus corona dengan mempersiapkan lebih banyak pusat-pusat penampungan untuk mereka yang dievakuasi.

“Tolong bersiap-siap sesegera mungkin,” kata Koike. Dua badai yang datang berturutan sebelumnya bulan ini menghantam Jepang dan Semenanjung Korea. Kedua badai itu menimbulkan kerusakan hebat dan mengakibatkan banjir di banyak lokasi.

6 Badai Bergerak Bersamaan di Bumi, Ini Faktanya.

Untuk kali pertama sejak 1971 ada 6 badai bergerak sekaligus di bumi yakni badai Sally, Paulette, Rene, Teddy, Vicky di Samudra Atlantik serta badai Karina di Samudra Pasifik.

6 badai itu terlihat  berputar-putar dari luar angkasa sejak Selasa (15/9/2020).  Saat ini badai Sally sedang meluncur menuju daratan ketika 5 badai lainnya berputar di permukaan bumi.

Data dari satelit Aqua NASA menyebutkan sejak Senin (14/9/2020), satelit Aqua NASA,telah mereklasifikasi Tropical Storm Sally sebagai badai.

Badai tersebut bergerak di atas Teluk Meksiko tengah-utara pada Selasa (15/9/2020) dan diperkirakan akan terus bergerak menuju Louisiana, Amerika Serikat dan membuat pendaratan sekitar Rabu (16/9/2020) hari ini entah siang atau malam hari.

Menurut NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), aeperti dilansir Space.com, pada pukul 8 malam EDT (2400 GMT) Senin, Sally adalah badai Kategori 2, memiliki kecepatan angin 100 mph (161 kph) dan bergerak dengan kecepatan 5 mph (8 kph).

Badai ini terus dipantau oleh instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) di satelit Aqua NASA, yang diluncurkan sejak 4 Mei 2002 untuk mengamati Bumi sebagai bagian dari Earth Observing System (EOS). 

Satelit geostasioner GOES-East NOAA (sebelumnya dikenal sebagai GOES-16) juga melacak badai, memantau bagaimana mereka tumbuh dan bergerak dan ke mana tujuan mereka selanjutnya.

GOES-East mengorbit lebih dari 22.000 mil (35.405 kilometer) di atas Bumi, mengawasi Amerika Utara, Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan, Karibia, dan Samudra Atlantik yang membentang ke Afrika. 

Dalam tweet yang diposting NOAA, Senin (14/9/2020) telah membagikan video yang diambil oleh GOES-16 dari Hurricane Sally. “Dalam video tersebut, Anda dapat melihat badai “awan menggelegak dan #lightning,” tweet NOAA .

Satelit lain juga terus memantau berbagai badai, termasuk satelit PLTN Suomi NASA-NOAA, yang memantau cuaca menggunakan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS).

Pada hari Senin, VIIRS juga melihat badai Paulette di malam hari (01:30 EDT; 0530 GMT), menunjukkan gambar yang jelas dari mata badai. Saat itu, mata besar Paulette sedang mendekati pulau Bermuda, yang menurut NASA sedang diberlakukan peringatan badai.

Ini adalah kali pertama sejak 1971, 6 badai bergerak dalam waktu yang bersamaan di muka bumi yakni badai Sally, Paulette, Rene, Teddy, Vicky di Samudra Atlantik serta badai Karina di Samudra Pasifik.

Musim Atlantik Tahun Ini Diterpa Banyak Badai, Pakar NHC Sampai Bingung Kehabisan Stok Nama.

Tak bisa dipungkiri, saat ini ada begitu banyak badai yang muncul di musim badai Atlantik. saking banyaknya, para peramal cuaca kebingungan memberi nama. 

Dilaporkan News Sky, ahli cuaca mengaku kehabisan stok nama tradisional untuk menandai badai yang terjadi sepanjang musim ini.Maka sebagai solusi, pihaknya terpaksa menandai jenis badai dengan nama Yunani.

Diakui mereka, kondisi kehabisan stok nama tradisional ini terjadi setelah badai tropis di Atlantik timur dinamai Wilfred Jumat 18 September 2020. Itu adalah nama terakhir badai dengan istilah tradisional di tahun 2020.

Ketika badai lain menyusul tak lama kemudian, yang terbentuk secara tidak biasa di lepas pantai Portugal di mana badai Atlantik tidak umum terjadi, pakar menamainya sebagai Alpha.

Badai selanjutnya bernama Beta telah terbentuk di Teluk Meksiko, diperkirakan akan mencapai kekuatan badai pada hari Minggu 20 September 2020, dengan kecepatan angin yang berkelanjutan sekitar 40mph (65kph).

Penamaan badai yang dilakuakn oleh National Hurricane Center (NHC) mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia.

Ada daftar nama pria dan wanita yang digunakan pada badai Atlantik dalam rotasi enam tahun, dimana hanya berubah jika ada badai yang sangat merugikan atau mematikan, yang berarti penggunaan namanya tidak lagi tepat. 

Nama-nama dari musim 2005, termasuk Katrina, Rita, dan Wilma semuanya sudah tidak digunakan lagi di masa depan.

Ini adalah kedua kalinya nama Yunani digunakan sejak NHC mulai menamai badai pada tahun 2005.

Terakhir kali daftar nama habis adalah 15 tahun yang lalu, ketika 6 huruf dari alfabet Yunani harus digunakan.

Sejauh ini telah terdapat campuran nama yang tidak biasa, seperti Cristobal dan Rene, serta nama yang lebih umum seperti Laura dan Omar. Para ahli mengatakan bahwa musim ini sebagian besar badai telah lemah, meskipun jumlahnya banyak.

Baru-baru ini, pemerintahan Trump mengumumkan akan memberikan hampir 13 miliar USD atau setara Rp192 triliun bantuan untuk membantu Puerto Rico membangun kembali dan memperbaiki jaringan listrik dan sekolahnya setelah kehancuran yang disebabkan oleh Badai Maria pada tahun 2017.

Badai tersebut menewaskan sekitar 3.000 orang, namun beberapa data menunjukkan bahwa angka ini bisa jadi lebih tinggi.

Melihat Jejak Kedahsyatan Badai Sally di Amerika Serikat.

Badai Tropis Sally telah menghantam sebagian wilayah Amerika Serikat, seperti Florida dan Alabama. Badai ini menyebabkan sebagian wilayah Amerika Serikat kehilangan daya.

Badai tersebut membuat hujan lebat dan gelombang ombak menghantam pantai di Teluk AS. Akibatnya, satu orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya berhasil diselamatkan dari banjir.

Wilayah Pescola di Florida menjadi yang terparah terkena dampak dari Badai Sally. Sally mendarat di Gulf Shores, Alabama pukul 04.45 waktu setempat dengan kecepatan angin maksimum 169 kilometer per jam. Badai kemudian menjadi depresi tropis dengan kecepatan angin menurun hingga 56 kilometer per jam.

Namun, curah hujan yang deras dan gelombang badai yang tinggi menyebabkan sebagian besar kerusakan. Saat badai bergerak ke utara dari pantai, sekitar 550 ribu penduduk di daerah terkena dampak tinggal dalam gelap.

Sally merupakan satu dari beberapa badai di Samudra Atlantik. Badai ini biasanya menyerang saat pergantian musim panas ke musim gugur.

Pemilik rumah dan bisnis di sepanjang Pantai Teluk yang basah mulai membersihkan puing-puing bangunan setelah Badai Sally. Para pejabat mengatakan Pantai Orange di Alabama akan tetap ditutup selama 10 hari karena daerah itu mengalami kerusakan signifikan dengan banjir besar dan pemadaman listrik yang ekstensif. Terlihat dari Orange Beach menunjukkan bangunan yang rusak dan perahu didorong di pinggir jalan.

NASA Rilis Foto Empat Badai dan Asap Kebakaran yang Mengancam AS.

Satelit NASA merilis gambar AS yang diselimuti asap akibat kebakaran di wilayah Barat negara dan badai di beberapa wilayah. Gambar NASA itu diambil pada 15 September 2020. Dikutip dari rilis NASA, Rabu waktu AS atau Kamis (17/9/2020) waktu Indonesia, foto NASA tersebut menunjukkan titik-titik merah yang berada di seluruh wilayah AS.

Namun NASA mengatakan bahwa titik merah yang berada di wilayah Barat AS menunjukkan area yang suhunya jauh lebih tinggi daripada area di sekitarnya dan menunjukkan adanya kebakaran. Selain itu, gambar NASA juga menangkap empat badai yang mengintai AS. Badai itu tampak di wilayah Timur dan Barat AS. Ada Badai Karina yang menjauh dari daerah Baja California. Ada juga Badai Sally, yang terlihat di tengah-tengah gambar, menghantam Gulf Coast hingga menyebabkan bencana banjir. Dikutip dari Aljazeera, Badai Sally menumbangkan pepohonan, membanjiri kota, dan memutus aliran listrik ke ratusan ribu rumah dan area bisnis di Alabama-Florida pada hari Rabu waktu setempat.

Komunitas pesisir Pensacola, Florida, mengatakan banjir mencapai 1,5 meter (lima kaki), dan jembatan yang rusak akibat Badai Sally. NASA juga mencatat Badai Paulette di lepas Pantai Timur dekat Bermuda dengan kecepatan angin 74 mph, meski demikian tidak ada daratan yang terancam dihantam badai ini. Badai Teddy di sebelah timur Kepulauan Leeward, juga memiliki kecepatan angin 74 mph, dan bergerak ke barat laut. NASA mengatakan pihaknya kerap mengambil gambar AS setiap hari, bahkan dari beberapa satelit. Namun kali ini cukup tak biasa karena mendapatkan gambar dengan deretan bahaya yang mengancam Paman Sam. Sebelumnya pada 14 September, NASA juga merilis gambar AS yang diselimuti asap akibat kebakaran.

Asap dikutip dari website EPA mengancam kesehatan warga setempat. Ancaman kesehatan terbesar dari asap berasal dari partikel halus. Partikel mikroskopis ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru Anda. Partikel ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari membuat mata perih dan pilek hingga penyakit jantung dan paru-paru kronis yang parah. Paparan polusi partikel bahkan dikaitkan dengan kematian dini. Kebakaran di Oregon dan California, AS Wilayah West Coast AS diselimuti asap tebal akibat kebakaran di Oregon yang menewaskan 30 orang dan menghancurkan ratusan rumah di wilayah itu. Asap kebakaran ini bahkan memengaruhi sebagian besar negara AS.

Dikutip dari Guardian, ribuan penduduk tetap dievakuasi di tempat penampungan dan kamar hotel, dan 22 orang masih dipastikan hilang, menurut Kantor Manajemen Darurat Oregon. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyetujui deklarasi bencana untuk Oregon. Otoritas AS juga mengalokasikan dana untuk warga yang terdampak kebakaran. Dana tersebut untuk perbaikan sementara tempat tinggal warga dan menghadirkan pinjaman berbiaya rendah untuk menutupi kerugian terkait properti yang tidak diasuransikan.

Di California, 16.600 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan 25 titik kebakaran pada hari Selasa setelah mampu memadamkan sebagian besar dua titik api pada hari Senin. Lebih dari 20 orang tewas dalam kebakaran hutan di negara bagian itu sejak pertengahan Agustus 2020. Meskipun pengelolaan hutan dan pemadaman kebakaran merupakan bagian dari masalah, para ilmuwan mengatakan bahwa pemanasan global berperan dalam bencana kebakaran di AS.

Badai Sally Terjang AS, Kawasan Pantai Teluk Terendam Banjir.

Badai Sally menghantam pantai dekat garis Florida-Alabama, Amerika Serikat, pada Rabu (16/9) pagi waktu setempat.Badai yang menghantam pada pagi hari di dekat Gulf Shores, Alabama, itu masuk dalam badai Kategori 2, dengan kecepatan angin mencapai 105 mph. Sore hari, badai berubah menjadi badai tropis karena kecepatan angin melambat menjadi 113 km per jam, sedikit di bawah ambang batas untuk kategori badai.Beberapa bagian dari Pantai Teluk telah tergenang banjir sekitar 46 cm akibat hujan dalam 24 jam terakhir. Selain itu, pepohonan dan tiang listrik tumbang, lebih dari 500.000 rumah dan bisnis di wilayah itu mati listrik.

Sally adalah nama badai ke-18 di Atlantik tahun ini dan akan menjadi badai kedelapan terkuat yang melanda Amerika Serikat. Chuck Watson dari Enki Research memperkirakan kerusakan dari badai Sally mencapai USD 2 miliar (Rp 29,6 triliun) hingga USD 3 miliar (Rp 44,4 triliun). Perkiraan itu bisa naik jika curah hujan terberat terjadi di daratan.

Badai Sally Menguat dan Semakin Dekati Pesisir AS.

Louisiana – Badai Sally menguat menjadi badai Kategori 2 pada Senin malam dan terus bergerak ke arah garis pantai Louisiana, Alabama, dan Mississippi, Amerika Serikat. Sally diperkirakan dapat memicu hujan deras dan juga gelombang “membahayakan jiwa” setinggi 3,3 meter.

Dikutip dari laman Washington Post, Selasa 15 September 2020, Sally perlahan bergerak menuju Pesisir Teluk AS, dan dampak buruknya di wilayah pesisir diperkirakan akan berlangsung lama.

Sebelum tiba di pesisir AS antara hari Selasa dan Rabu, Sally mungkin akan lebih menguat lagi saat berada di perairan hangat Teluk Meksiko.

Meski Sally membawa angin kencang dengan kecepatan hingga 112-160 kilometer per jam, ancaman terbesar dari badai ini adalah air. Selama ini, area pesisir Louisiana dan Alabama dikenal sangat rentan terhadap gelombang tinggi.
 
Karena pergerakannya yang lamban, hujan deras akan melanda sejumlah wilayah mulai dari tenggara Louisiana hingga ke Florida Panhandle. Kondisi ini berpotensi memicu banjir besar di New Orleans jika hujan mengguyur selama berjam-jam.
 
Pusat Badai Nasional (NHC) memproyeksikan Sally akan tiba di Louisiana pada Selasa pagi waktu setempat, dan bergerak ke arah Mississippi dan Alabama menuju Florida Panhandle.
 
Sally diperkirakan juga akan berdampak pada beberapa kota, mulai dari Morgan City, Louisiana, hingga ke Ocean Springs, Mississippi.
 
Gubernur Louisiana John Bel Edwards mendeklarasikan status darurat badai pada Sabtu kemarin. Sementara otoritas New Orleans telah mengeluarkan perintah evakuasi wajib untuk beberapa wilayah rentan.

Lebih Seram dari Bumi, Ini 4 Badai Paling Mengerikan di Tata Surya.

Lebih Seram dari Bumi, Ini 5 Badai Paling Mengerikan di Tata Surya

Badai besar selalu jadi bencana yang ditakuti semua orang. Bagaimana kita tidak takut, jika satu sapuan badai saja sudah bisa meluluhlantakkan rumah beserta penghuninya? Bagi kita, badai di Bumi sudah menakutkan.

Tapi menurut astronomy.com, badai Bumi ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan badai dari planet lain yang ada di Tata Surya. Jadi seseram apa sih badai di sana?

1. The Great Red Spot di Jupiter.

Kalau kamu pernah memperhatikan gambar planet Jupiter, kamu akan menemukan bintik merah raksasa yang dikenal dengan nama The Great Red Spot. Meski dari gambar, bintik merah ini tampak sepele tapi siapa sangka jika bintik merah ini adalah badai raksasa yang terjadi di Jupiter.

Tidak tanggung-tanggung, badai raksasa ini memiliki ukuran tiga kali lipat ukuran Bumi dan sudah berlangsung selama tiga ratus tahun. Tidak ada yang tahu pasti kenapa badai bisa muncul di Jupiter, tapi dugaan paling kuat adalah karena sinar kosmik yang memicu reaksi dan mengubah amonium hidrosulfida di lapisan awan atas menjadi senyawa baru dengan rona berdarah.

2. Badai debu di Mars.

Meski dalam banyak hal, Mars mirip dengan Bumi, tapi badai di Mars tidak ada mirip-miripnya dengan badai yang ada di planet kita, jauh lebih seram malah! Badai di Mars adalah badai debu yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Badai ini terjadi karena partikel debu yang ada di Mars menyerap sinar matahari dan membuat atmosfer lebih hangat. Ketika udara hangat ini datang ke tempat yang lebih dingin, udara yang sudah bercampur debu kemudian berubah jadi badai kencang yang dapat menyelimuti seluruh permukaan planet.

Tidak berhenti di situ, badai di Mars juga sanggup mengubah suhu planet yang minus menjadi lebih hangat yakni sekitar 30 derajat celcius.


3. Badai misterius di Saturnus.

Sama seperti tetangganya, Saturnus juga bisa mengalami badai yang mengerikan. Badai di Saturnus memang jarang terjadi, hanya beberapa dekade sekali di bagian kutubnya. Meski begitu, badai Saturnus membentuk segi enam yang dikenal dengan Hexagon.

Setiap sisi memiliki ukuran lebih besar dari planet kita. Di bagian pusatnya, badai berputar membentuk badai gas yang berukuran 50 kali lebih besar dari badai di Bumi. Saking besarnya, penampakan badai ini terlihat hingga luar angkasa.

4. Angin topan mengerikan di Neptunus.

Neptunus memang tidak punya badai debu atau badai raksasa yang berlangsung selama ratusan tahun. Tapi Neptunus memiliki angin topan yang mengerikan di planetnya. Angin di Neptunus bisa bergerak dengan kecepatan 1.500 mph bahkan melebihi 1.930 km per jam atau setengah dari kecepatan suara di Bumi.

Badai di Bumi memang menakutkan, tapi ternyata planet lain jauh lebih mengerikan. Untungnya, tidak ada satu pun makhluk hidup yang tinggal di planet-planet tersebut. Coba bayangkan, betapa mengerikannya jika manusia tinggal di salah satu planet ini!