Musim Atlantik Tahun Ini Diterpa Banyak Badai, Pakar NHC Sampai Bingung Kehabisan Stok Nama.

Tak bisa dipungkiri, saat ini ada begitu banyak badai yang muncul di musim badai Atlantik. saking banyaknya, para peramal cuaca kebingungan memberi nama. 

Dilaporkan News Sky, ahli cuaca mengaku kehabisan stok nama tradisional untuk menandai badai yang terjadi sepanjang musim ini.Maka sebagai solusi, pihaknya terpaksa menandai jenis badai dengan nama Yunani.

Diakui mereka, kondisi kehabisan stok nama tradisional ini terjadi setelah badai tropis di Atlantik timur dinamai Wilfred Jumat 18 September 2020. Itu adalah nama terakhir badai dengan istilah tradisional di tahun 2020.

Ketika badai lain menyusul tak lama kemudian, yang terbentuk secara tidak biasa di lepas pantai Portugal di mana badai Atlantik tidak umum terjadi, pakar menamainya sebagai Alpha.

Badai selanjutnya bernama Beta telah terbentuk di Teluk Meksiko, diperkirakan akan mencapai kekuatan badai pada hari Minggu 20 September 2020, dengan kecepatan angin yang berkelanjutan sekitar 40mph (65kph).

Penamaan badai yang dilakuakn oleh National Hurricane Center (NHC) mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia.

Ada daftar nama pria dan wanita yang digunakan pada badai Atlantik dalam rotasi enam tahun, dimana hanya berubah jika ada badai yang sangat merugikan atau mematikan, yang berarti penggunaan namanya tidak lagi tepat. 

Nama-nama dari musim 2005, termasuk Katrina, Rita, dan Wilma semuanya sudah tidak digunakan lagi di masa depan.

Ini adalah kedua kalinya nama Yunani digunakan sejak NHC mulai menamai badai pada tahun 2005.

Terakhir kali daftar nama habis adalah 15 tahun yang lalu, ketika 6 huruf dari alfabet Yunani harus digunakan.

Sejauh ini telah terdapat campuran nama yang tidak biasa, seperti Cristobal dan Rene, serta nama yang lebih umum seperti Laura dan Omar. Para ahli mengatakan bahwa musim ini sebagian besar badai telah lemah, meskipun jumlahnya banyak.

Baru-baru ini, pemerintahan Trump mengumumkan akan memberikan hampir 13 miliar USD atau setara Rp192 triliun bantuan untuk membantu Puerto Rico membangun kembali dan memperbaiki jaringan listrik dan sekolahnya setelah kehancuran yang disebabkan oleh Badai Maria pada tahun 2017.

Badai tersebut menewaskan sekitar 3.000 orang, namun beberapa data menunjukkan bahwa angka ini bisa jadi lebih tinggi.